Aku merasa sangat bersalah sekali hari ini pada adek ku satu-satunya yang sangat aku sayang. Aku tidak bermaksud membentaknya dan menekan tombol end call saat dia menelvon.
Hanya saja aku sedang kesal dengan sikap dia. Aku tau dia rindu padaku, hampir dua bulan sudah dia tidak melihatku, dan tidak ada sosok ku menemaninya di rumah.
Sperti biasa dia menelvon dengan suara manjanya. Ya, memang suara itu juga aku rindukan. Dia memulai menyebutkan satu per satu barang barang yang dia inginkan dengan maksud aku memberikannya untuk oleh-oleh. Sesekali dengan rayuan, suaranya membuatku tak sanggup berkata tidak.
Aku sudah bilang iya, namun dia mulai berbicara lain. Mungkin dia menggodaku. Menggodaku dengan kebiasaan lama, dan mulai menyangkut pautkan dengan oleh-oleh, jika iya maka A kalau engga maka B. Dan aku mulai kesal. Dia harusnya tahu benar aku tidak suka saat ada orang yang berbicara asal tanpa berfikir. Meski itu hanya sebuah bahan candaan, tapi kalau sudah mulai berbicara merancau aku sangat benci sekali. Aku kesal, dia semakin merancau dan aku sudah mengingatkan agar mulai berhenti.
Tentu saja aku mengenal adikku, dia kalau sudah diberi peringatan sat bercanda dia akan semakin menjadi, dan akhirnya aku bilang kalau aku akan menutup televonnya kalau dia masih saja begitu.
Dia masih melanjutkannya, dan aku akhirnya tanpa pikir panjang langsung menutup telvon. Sesaat aku memang masih kesal. Namun kemudian aku tarik nafas. Bodoh. Kenapa aku begitu? Adik ku seorang yang sangat sensitif. Aku merasa sangat bersalah sekali, aku membayangkan dia diam, melihat hapenya, dan mulai berpikir kenapa aku menutup televonnya krena aku tidak sayang padanya.
Seketika aku menyesal sekali. Kenapa aku berbuat demikian, ditambah aku SMS kepadanya dengan tulisan Adek jahat og!
Rasanya aku ingin menangis, aku sadar dia masih anak-anak. Aku langsung sms adikku adn meminta maaf tapi hapenya tidak aktif. Maaf ya deeek...
I LOVE YOU.
Hanya saja aku sedang kesal dengan sikap dia. Aku tau dia rindu padaku, hampir dua bulan sudah dia tidak melihatku, dan tidak ada sosok ku menemaninya di rumah.
Sperti biasa dia menelvon dengan suara manjanya. Ya, memang suara itu juga aku rindukan. Dia memulai menyebutkan satu per satu barang barang yang dia inginkan dengan maksud aku memberikannya untuk oleh-oleh. Sesekali dengan rayuan, suaranya membuatku tak sanggup berkata tidak.
Aku sudah bilang iya, namun dia mulai berbicara lain. Mungkin dia menggodaku. Menggodaku dengan kebiasaan lama, dan mulai menyangkut pautkan dengan oleh-oleh, jika iya maka A kalau engga maka B. Dan aku mulai kesal. Dia harusnya tahu benar aku tidak suka saat ada orang yang berbicara asal tanpa berfikir. Meski itu hanya sebuah bahan candaan, tapi kalau sudah mulai berbicara merancau aku sangat benci sekali. Aku kesal, dia semakin merancau dan aku sudah mengingatkan agar mulai berhenti.
Tentu saja aku mengenal adikku, dia kalau sudah diberi peringatan sat bercanda dia akan semakin menjadi, dan akhirnya aku bilang kalau aku akan menutup televonnya kalau dia masih saja begitu.
Dia masih melanjutkannya, dan aku akhirnya tanpa pikir panjang langsung menutup telvon. Sesaat aku memang masih kesal. Namun kemudian aku tarik nafas. Bodoh. Kenapa aku begitu? Adik ku seorang yang sangat sensitif. Aku merasa sangat bersalah sekali, aku membayangkan dia diam, melihat hapenya, dan mulai berpikir kenapa aku menutup televonnya krena aku tidak sayang padanya.
Seketika aku menyesal sekali. Kenapa aku berbuat demikian, ditambah aku SMS kepadanya dengan tulisan Adek jahat og!
Rasanya aku ingin menangis, aku sadar dia masih anak-anak. Aku langsung sms adikku adn meminta maaf tapi hapenya tidak aktif. Maaf ya deeek...
I LOVE YOU.
my mom and litta sissy . love them so much

Comments
Post a Comment